Selasa, 28 Mei 2019

MENGAPA TQN ADA BEBERAPA CABANG?

Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) adalah tarekat yang merupakan gabungan dari dua tarekat besar, Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah. Penggabungan ini dilakukan oleh Syekh Ahmad Khatib al-Sambasi, seorang ulama Sufi besar abad ke-18 di Tanah Suci, asal Sambas, Kalimantan Barat.

Dari sekian banyak muridnya, ada 4 orang dari Nusantara yang unggul. Keempatnya itu kemudian diangkat menjadi Khalifah. Khalifah itu adalah wakil seorang Musyid tarekat yang diberikan wewenang untuk menyebarkan tarekat tersebut dan/atau yang kelak akan melanjutkan estafet kepemimpinan dalam tarekat tersebut setelah sang Mursyid sudah wafat. Keempat orang Khalifah Syekh Ahmad Khatib itu adalah:
1. Syekh Abdul Karim al-Bantani, dari Banten
2. Syekh Ahmad Hasbullah al-Maduri, dari Madura.
3. Syekh Kholil dari Bangkalan, Madura.
4. Syekh Ahmad Tholhah bin Tholabuddin, dari Cirebon.

Keempat khalifah tersebut diizinkan oleh Syekh Ahmad Khatib untuk menyebarkan TQN di daerahnya masing-masing di Nusantara. Maka sepulangnya mereka ke daerah masing-masing, mereka mulai menyebarkan TQN.

1. Syekh Abdul Karim Banten. Beliau menyebarkan TQN di Banten. Beliau kemudian mengangkat sejumlah Khalifah yang kemudian mereka mendirikan pusat-pusat TQN di Banten, Bogor, Mranggen-Demak, Jombang, dan lain-lain. Termasuk TQN yang berkembang di Berjan-Purworejo berasal dari jalur murid-muridnya Syekh Abdul Karim Banten ini. Syekh Abdul Karim, mengangkat Syekh Zarkasyi sebagai Khalifah. Syekh Zarkasyi wafat digantikan oleh Syekh Muhammad Siddiq, lalu oleh Syekh Muhammad Nawawi, dan oleh Syekh Chalwani an-Nawawi hingga saat ini.

2. Syekh Ahmad Hasbulllah. Beliau menyebarkan TQN di Madura. Syekh Ahmad Hasbullah ini punya sejumlah Khalifah, salah satunya bernama KH. Muhammad Khalil, pengasuh Ponpes Darul Ulum, Rejoso, Jombang, yang dari beliau kemudian mendirikan pusat dakwah TQN di Rejoso, Jombang. KH. Muhammad Khalil wafat, kemursyidan TQNnya digantikan oleh adik iparnya KH. Romli Tamim, lalu oleh KH. Musta’in Romli, dan seterusnya. Dari TQN Rejoso ini kemudian lahir sejumlah pusat TQN lainnya di Jawa Timur.

3. Syekh Kholil, Bangkalan, Madura. Beliau disinyalir tidak begitu aktif menyebarkan TQN di daerahnya. Namun ada keterangan bahwa Syekh Kholil mengijazahkan TQN kepada sejumlah muridnya seperti Habib Ali bin Umar bin Idrus bin Zain bin Alawi Bafaqih Ba ‘Alawi Negara Bali. Habib Ali bin Umar kemudian mengijazahkannya lagi kepada salah seorang muridnya yaitu Habib Muhammad Lufthif bin Yahya dari Pekalongan. Habib Luthfi kemudian mendirikan Majelis MANISAN yang secara khusus mengamalkan dzikir-dzikir TQN.

4. Syekh Ahmad Tholhah bin Tholabuddin. Beliau menyebarkan TQN di Cirebon, Jawa Barat. Beliau mempunyai banyak murid. Salah satunya yang utama dan diangkat menjadi Khalifah adalah Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad dari Tasikmalaya. Setelah Syekh Tholhah wafat, kepimpinan TQN dilimpahkan kepada Khalifahnya tersebut, yakni Syekh Abdullah Mubarok atau dikenal dengan julukan Abah Sepuh.
Abah Sepuh ini kemudian mengembangkan TQN di Tasikmalaya dan mendirikan Pondok Pesantren Suryalaya. *Jadilah Ponpes Suryalaya sebagai pusat dakwah TQN.* Sebelum Abah Sepuh wafat, beliau telah mengangkat murid yang juga putranya Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul’Arifin sebagai Khalifah.
Abah Anom wafat pada 2011, namun sebelum wafatnya Beliau tidak menunjuk seorang pun menjadi calon Mursyid penggantinya. Namun Beliau menunjuk 3 orang Wakil Talqinya sebagai Pengemban Amanah yaitu KH. Nor Anom Mubarok, KH. Zainal Abidin Anwar, dan KH. Dudun Noorsaiduddin. Hingga saat ini, TQN Ponpes Suryalaya masih dalam kepemimpinan Mursyid Abah Anom. Secara praktis, pengelolaan Pondok Pesantren diserahkan kepada salah seorang putranya yaitu KH. Baban Ahmad Jihad. Sedangkan pengelolaan TQN diserahkan kepada 3 orang Pengemban Amanah itu. Ketiga orang inilah yang menjadi tempat konsultasi dan pembina para Wakil Talqin TQN Suryalaya yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara dan Asia Tenggara.

Itulah 4 jalur utama masuknya TQN di Nusantara. Jadi, TQN Suryalaya yang kita amalkan ini adalah TQN yang masuk dari jalur berikut:
a. Syekh Ahmad Khtotib as-Sambasi, kepada:
b. Syekh Ahmad Tholhah bin Tholabuddin, kepada
c. Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh), dan kepada
d. Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul’Arifin (Abah Anom).

Mari kita berkirim al-Fatihah kepada para Mursyid kita di jalur silsilah TQN Ponpes Suryalaya maupun di jalur-jalur silsilah TQN lainnya. _al-Fatihah._


Oleh. _Al-faqir_ Cecep Zakaris El Bilad, S.IP., M.Ud.

_Tulisan ini dirujuk dari sejumlah sumber._
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar