Selasa, 28 Mei 2019

PANGERSA ABAH ANOM QS MENUNTASKAN NAZAR MURIDNYA

Ada sahabat baik Alfaqir bernama Aswan Suprapto. Ia pernah bernazar jika lulus sidang skripsi akan menghadiahkan dzikir yg sebanyak-banyaknya kpd Allah swt. Pd thn 2001 ia lulus sidang skrpsi serta menceritakan nazarnya kpd Alfaqir.

“Maa syaa Allaah! Ente nekat bener bernazar kayak gitu, Wan. Mendingan ente bernazar motong kambing atau sapi. Langsung selesai nazar ente, Wan… Nah ini menghadiahkan dzikir kpd Allah yg sebanyak-banyaknya. Seumur hidup juga nazar ente gak bakalan selesai..!” Respon Alfaqir secara spontan.

“Terus gimana dong, Dhik?” Aswan jadi agak panik setelah menyadarinya. 

“Ya udah nanti kita sowan kpd Pangersa Abah aja, kita minta petunjuk beliau..” Jawab Alfaqir menenangkan Aswan.

Singkat cerita  Alfaqir & Aswan berangkat ke Ponpes Suryalaya. Ketika mushafahah dgn Pangersa Abah maka Aswan menceritakan tentang nazarnya. Pangersa Abah kemudian berkata: “Laksanakan dzikirnya pada hari Jum’at..”

Setelah keluar dari Madrasah Pangersa Abah, Aswan berkata: “Dhik, tadi Pangersa Abah cuma bilang hari Jum’at aja. Terus waktunya mulai kapan yaa?”

“Kan  awal hari dalam Islam dimulainya pada waktu Maghrib. Berarti ente mulai aja dari waktu Maghrib malam Jum’at, Wan..” Saran Alfaqir.

Ketika bertemu waktu Maghrib malam Jum’at yg terdekat. Maka Aswan langsung melaksanakan nazarnya. Setelah Shalat Maghrib Aswan langsung berdzikir jahri dgn hitungan ribuan jumlahnya. Setelah itu ia bertawajjuh sampai waktu Isya. Setelah Shalat Isya disambung lagi dgn dzikir jahri ribuan jumlahnya serta bertawajjuh. Semalaman Aswan berada di atas sajadah melakukan shalat, dzikir & tawajjuh. Waktunya hanya diselang sejenak dgn makan, minum & buang air kecil. Setelah itu ia melanjutkan dzikir dlm keadaan berwudhu.

Keesokan siangnya, setelah Shalat Jum’at di Masjid Jami’ Nurul Iman, Rawa Buaya, Alfaqir bertemu Aswan. Ia mengajak Alfaqir ke rumahnya utk menemaninya berdzikir. Setelah Alfaqir pulang ke rumah sejenak berganti pakaian & makan siang. Kemudian Alfaqir langsung datang ke rumah Aswan. Di dlm kamarnya Aswan sedang tawajjuh di atas sajadah. 

Ketika Adzan Ashar berkumandang Aswan menyelesaikan tawajjuhnya. Lalu kami Shalat Ashar berjama’ah. Dilanjutkan dgn berdzikir jahri sampai menjelang waktu maghrib. Alfaqir tdk tahu berapa ribu jumlah dzikir jahri ketika itu. Walau pun tempo suara dzikir sangat cepat tapi suara Aswan tetap terdengar konstan.

“Sayyidunaa Muhammadur rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam!” Tiba-tiba Aswan menutup dzikir jahrinya. Lalu berdoa serta melakukan kaifiyat dzikir harian sampai tawajjuh. Kali ini Aswan hanya tawajjuh sekitar 3 menit saja. 

“Dhik, siapakah Syaikh yg memakai baju hijau?” Tanya Aswan tiba-tiba.

“Dalam literatur sufi biasanya sosok yg dikenal berpakaian hijau adalah Nabi Khidhir ‘alaihis salaam. Kenapa memangnya, Wan?” Alfaqir menjawab sekaligus bertanya balik.

“Tadi waktu kita berdzikir sebenarnya oleh Pangersa Abah kita dibawa jalan-jalan. Tadi kita melayang sampai di atas menara Masjid Nurul Iman. Terus ane lihat ke arah rumah ente seperti ada bunga raksasa indah yg menaungi. Terus kita melayang ke luar bumi sampai ke tempat yang sangat indah. Tapi ane yakin itu pasti bukan surga. Isinya memang wanita-wanita cantik, Dhik. Tapi pada telanjang & ngegodain kita. Mungkin itu surganya jin kali ya, Dhik?” Aswan tertawa kecil sehingga ceritanya terpotong sejenak.

“Terus kita naik lagi meninggalkan alam yg indah itu.  Seperti masuk ke alam sunyi. Tapi anehnya bertemu dgn sosok seperti Sidharta Gautama sedang duduk di atas teratai. Dia bilang silakan naik terus, saya pun sedang mendzikirkan Dia, katanya. Terus kita masuk lagi ke alam yg sangat Indah banget. Kali ini ane yakin ini adalah surga. Karena di dalamnya penuh dgn wanita cantik berhijab memancarkan cahaya. Asli, Dhik, cantik banget! Tapi perilakunya sopan gak kayak yg sebelumnya..” Aswan seperti menerawang kembali.

“Tapi alam indah yg ane yakin adalah surga itu kita tinggal lagi, Dhik. Kita terus naik ke alam yang seperti lautan cahaya. Di sana banyak sosok-sosok bercahaya sedang berdzikir. Termasuk ada Pangersa Abah di situ. Ajaibnya Pangersa Abah di situ sekaligus dgn kursi rodanya, Dhik. Lalu Pangersa Abah bilang cukup. Tapi karena ane merasa masih kuat, ane terusin aja dzikirnya. Terus Tuan Syaikh juga bilang cukup, tapi ane masih terusin aja dzikirnya. Tiba-tiba Syaikh berbaju hijau, yg ente bilang Nabi Khidhir itu, membentak kencang bilang cukup. Ane kaget terus spontan bilang Sayyiduna Muhammadur rasuulullaah. Setelah itu kita udah balik lagi di sini, Dhik.” Kata Aswan mengakhiri ceritanya.

“Alhamdulillaah, Wan. Berarti nazar ente udah tuntas. Karena selebihnya nazar dzikir ente insya Allah ditanggung oleh Pangersa Abah..” Kata Alfaqir ikut senang dgn pengalaman ruhani Aswan. Wallahu a’lam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar