©copy from Ust. Andhika Darmawan.
Pada tahun 1986, Pak Guru Dato’ Haji Zuki as-Syuja’ ra yg berdomisili di Kedah Malaysia, mendapat undangan Pangersa Abah untuk datang ke Ponpes Suryalaya. Padahal sebelumnya Pangersa Abah tidak pernah mengundang dirinya & ikhwan lainnya untuk datang ke Ponpes Suryalaya. Maka sebagai seorang murid, Pak Guru merasa dirinya pasti sudah melakukan kesalahan besar sehingga harus mendapatkan teguran langsung dari Pangersa Abah.
Oleh karena itu, walau pun saat itu Pak Guru tidak memiliki biaya perjalanan menuju ke Ponpes Suryalaya, tapi beliau tetap mengupayakan biayanya dengan menjual sepeda motornya. Singkat cerita Pak Guru tiba di Ponpes Suryalaya pada waktu Ashar. Lalu ba’da Ashar, Pak Guru diajak makan bersama oleh Pangersa Abah. Masih di meja makan itu, Pangersa Abah melepaskan peci putihnya dan dilemparkan kpd Pak Guru, sambil berkata; “Sudah, besok pulang..!”
Maa syaa Allaah! Pak Guru terkejut. Baru tiba di Ponpes Suryalaya pada waktu Ashar, tapi esok harinya harus segera pulang. Tapi sebagai seorang murid yg patuh, diterimanya perintah Pangersa Abah tsb dengan penuh rasa suka cita. Alhamdulillaah.
“Tapi berangkat Haji..!” Kata Pangersa Abah melanjutkan.
Pak Guru tambah terkejut lagi. Padahal untuk datang ke Suryalaya saja dirinya harus menjual sepeda motor. Belum lagi waktu wukuf haji di Arafah cuma tinggal 3 pekan lagi. Namun demikian, Pak Guru sangat yakin dengan Pangersa Abah yang telah memberikan peci putih tsb sebagai modalnya.
Ketika tiba kembali di Kedah Malaysia, ternyata sudah ada yang menyiapkan Tabungan Haji, tapi tidak diketahui siapa orangnya. Alhamdulillaah bagi Pak Guru ini adalah khirqah dari seorang guru mursyid untuk dirinya. Maka dengan izin Allah swt Pak Guru berangkat menunaikan ibadah Haji ke Tanah suci.
Ketika di Masjid Nabawi di Madinah al-Munawarrah, Pak Guru mengikuti arahan Pangersa Abah utk melakukan Tawassul, Khataman & Munajat. Dalam rangkaian berziarah ke Makam Rasulullah saw, Pak Guru mengawalinya di Suffah dengan amalan Tawassul. Hanya saja, Shalawat Nariyyah yang biasanya hanya dilantunkan 3 kali saja, kali ini dilantunkan sampai 41 kali. Setelah dari Suffah, Pak Guru melakukan Shalat Sunnah Hajat 2 rakaat di Raudhah. Dengan kaifiyat ba’da Al-Fatihah setiap rakaat membaca surat Al-Ikhlas 11 kali. Keluar dari Raudhah, Pak Guru menuju ke Makam Rasulullah ﷺ
Di depan Makam Rasulullah ﷺ Pak Guru menyampaikan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ . Lalu muncul godaan di dalam diri Pak Guru utk membuktikan karamah Pangersa Abah. Maka Pak Guru lalu bermunajat:
“Yaa Allah yaa Rabbii….. Andaikata Syaikh Haji Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad… Syaikh Haji Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin.. bersanad betul-betul denganmu yaa Rasulallah.. Sebagai silsilah Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah yang ke-37.. Nyatakanlah dlm qalbuku benarkah beliau salah seorang Mursyid yg kamil mukammil..?!!”
Tiba-tiba saja dinding makam Rasulullah ﷺ bergetar kuat & berbunyi sangat keras. Dugudug dugudug dugudug dugudug dugudug dugudug….!!! Kira-kira selama 4 sampai 5 menit. Subhaanallaah..!!! Semua orang yang hadir menjadi terkejut, takut dan berlarian sangat panik. Karena mereka menyangka ada gempa bumi. Hanya Pak Guru yang tetap diam di depan Makam Rasulullah ﷺ dengan qalbu yang penuh haru karena menyaksikan karamah Pangersa Abah di sisi Rasulullah ﷺ.
Sepulang ibadah Haji, Pak Guru segera datang ke Ponpes Suryalaya untuk bermushafahah dengan Pangersa Abah. Sebelum Pak Guru menceritakan berbagai pengalamannya ketika melakukan ibadah Haji, Pangersa Abah dengan lembut berkata;
“Zuki.. Jangan begitu.. Kamu sih enak-enakan.. Tapi kasihan orang-orang yang sedang berziarah di Makam Rasulullah ﷺ !”
____________________________________________
Subhaanallaah.. Wallahu a’lam..
Ilaa hadhrati Syaikh Mursyidinaa Ghauts al-Haqq Quthub ar-Rahmah Sayyidi Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin QS.. AlFaatihah..!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar